Minggu, 21 Juni 2015

[027] An Naml Ayat 022

««•»»
Surah An Naml 22

فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
««•»»
famakatsa ghayra ba'iidin faqaala ahathtu bimaa lam tuhith bihi waji/tuka min saba-in binaba-in yaqiinin
««•»»
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba {1095} suatu berita penting yang diyakini.
{1095} Saba nama kerajaan di zaman dahulu, ibu kotanya Ma`rib yang letaknya dekat kota San`a ibu kota Yaman sekarang.
««•»»
He did not stay for long [before he turned up] and said, ‘I have alighted on something which you have not alighted on, and I have brought you from Sheba a definite report.
««•»»

Selang tidak beberapa lama, setelah mengeluarkan ancaman hukum mati untuk burung Hud-hud, burung itupun kembali dan Sulaiman pun menanyakan sebab-sebab kepergian burung Hud-hud yang tanpa pamit itu.

Burung Hud-hud itu menerangkan alasan kepergiannya, bahwa Ia telah pergi dan terbang mengarungi daerah yang jauh dan telah sampai kepada suatu negeri yang bernama Saba'. Ia telah mengetahui hal ihwal negeri itu yang Sulaiman sendiri belum mengetahuinya. Berita yang dibawanya itu adalah suatu berita penting serta dapat diyakini kebenarannya.

Burung Hud-hud telah menyampaikan berita penting itu kepada Nabi Sulaiman as sedemikian rupa, dengan kata-kata yang manis lagi hormat, enak didengar telinga, disertai dengan alasan-alasan yang kuat pula. Sehingga kemarahan Sulaiman kepada burung Hud-hud itu berangsur-angsur mencair dan meleleh, sehingga akhirnya menjadi hilang sama sekali. Bahkan dengan keterangan itu Nabi Sulaiman as telah mendapat sesuatu yang berharga, sehingga hukuman yang pernah diancamkannya itu tidak pernah dilaksanakannya.

Kesanggupan burung Hud-hud bepergian sejauh itu dan menyampaikan berita penting kepada Nabi Sulaiman itu adalah suatu perwujudan kekuasaan Allah dan ilham yang telah ditanamkan Nya ke dalam hati dan pikiran burung Hud-hud itu. Ia telah sanggup pergi dan terbang mengarungi daerah yang terletak antara negeri Palestina dan Yaman sekarang, suatu jarak yang cukup jauh, mengarungi daerah padang pasir yang sangat panas. Dan ia telah sanggup pula mengetahui dan mengerti keadaan negeri Saba dan dihubungkan pula dengan tugas Nabi Sulaiman as yang bertugas sebagai seorang kepala negara dan sebagai seorang Rasul Allah. Ia telah sanggup pula menyampaikan berita itu kepada Nabi Sulaiman dan memberikan kepadanya suatu pengertian yang baik pula, sehingga Nabi Sulaiman as langsung menanggapi berita yang dibawa burung Hud-hud itu.

Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi dan Rasul, ia juga seorang raja yang bijaksana, yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan yang banyak. Ia mempunyai pengetahuan yang banyak di samping pengetahuan-pengetahuan yang lain yang mungkin hanya kepadanya saja diberikan Allah. Sedang burung Hud-hud hanyalah seekor burung yang tidak mempunyai arti sama sekali, bila dibanding dengan apa yang ada dan dimiliki oleh Nabi Sulaiman as. Sekalipun demikian ada pengetahuan burung Hud-hud yang belum diketahui oleh Nabi Sulaiman dalam melaksanakan tugasnya sebagai raja, terutama pula dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang Nabi dan Rasul Allah. Dalam menghadapi burung Hud-hud, baik burung itu dalam keadaan bersalah karena telah pergi tanpa pamit, maupun burung itu sebagai sumber dan pembawa berita penting. Nabi Sulaiman telah bersikap dengan sikap wajar, sebagai seorang hamba Allah.

Kisah Nabi Sulaiman as dan burung Hud-hud ini, hendaknya menjadi tamsil dan ibarat bagi manusia, terutama bagi orang-orang yang telah mengaku dirinya beriman kepada Allah. Janganlah hendaknya seseorang merasa sombong dan takabur, karena pengetahuan, kekuasaan dan kekayaan yang telah diberikan Allah kepada mereka. Yang diberikan itu walau berapapun banyaknya menurut dugaan seseorang, namun yang diperoleh itu hanyalah sedikit sekali bila dibanding dengan pengetahuan, kekuasaan dan kekayaan yang ada pada Nya. Karena itu jangan sekali-kali menganggap rendah, enteng dan hina sesuatu atau seseorang. Kemungkinan Allah SWT telah memberikan kepada sesuatu yang dianggap hina dan rendah itu, sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang lain, yang ada pada suatu saat akan diperlukan untuk sesuatu keperluan dan kepentingan yang amat besar, sebagaimana yang telah dianugerahkan Nya kepada burung Hud-hud. Allah SWT Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dan memuliakan manusia.

Karena itu hendaklah manusia hidup berkasih-kasihan, tolong-menolong dan saling menghormati antara sesama manusia. Tirulah sikap Nabi Sulaiman as kepada burung Hud-hud, dia selalu mengasihi dan menghormatinya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka diamlah Nabi Sulaiman) dapat dibaca Famakutsa dan Famakatsa (dalam waktu yang tidak lama) tidak lama setelah itu datanglah burung Hud-hud ke hadapan Nabi Sulaiman seraya merendahkan diri, yakni dengan mengangkat kepalanya dan merendahkan kedua sayap dan ekornya. Akhirnya Nabi Sulaiman memaafkannya, lalu Nabi Sulaiman menanyakan kepadanya tentang apa yang ia jumpai selama ketidakhadirannya itu (Hud-hud berkata, "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya) yakni aku telah menyaksikan apa yang belum pernah kamu saksikan (dan kubawakan kepadamu dari negeri Saba) dapat dibaca Saba-in dan Saba-a nama suatu kabilah yang diam di negeri Yaman. Mereka dinamakan dengan nama kakek moyangnya. Berdasarkan ketentuan ini lafal Saba menerima Tanwin (suatu berita) yakni kabar (yang diyakini).
««•»»
He said, ‘Assuredly I will chastise him with a severe chaBut he did not remain (read fa-makutha or fa-makatha) long [in absence], in other words, [he was away only] for a short while, and came to Solomon humbly, with his head up and his wings and tail lowered. Solomon pardoned him and asked him about what he had encountered during his absence: and he said, ‘I have discovered something of which you have no knowledge, and I have brought you from Sheba (this may be read in declined form [min Saba’in] or left as indeclinable [min Saba’a]) — a tribe in Yemen, whose name is taken from the name of one of their ancestors (which is also the reason why it may be declined) — a verified report.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 21][AYAT 23]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
22of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=22&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar