Senin, 20 April 2015

[027] An Naml Ayat 015

««•»»
Surah An Naml 15

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ
««•»»
walaqad aataynaa daawuuda wasulaymaana 'ilman waqaalaa alhamdu lillaahi alladzii fadhdhalanaa 'alaa katsiirin min 'ibaadihi almu/miniina
««•»»
Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman".
««•»»
Certainly We gave David and Solomon knowledge, and they said, ‘All praise belongs to Allah, who granted us an advantage over many of His faithful servants.’
««•»»

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah menganugerahkan kepada Nabi Daud dan kepada putranya Nabi Suliaman as ilmu pengetahuan, baik yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan ketuhanan dan syariat-syariatnya, maupun yang berhubungan dengan pengetahuan umum, seperti kemampuan memimpin dan mengatur bangsanya.

Kedua Nabi ini tidak saja memiliki pengetahuan-pengetahuan itu, tetapi juga mengamalkan dengan baik, maka ilmu pengetahuan yang dipunyai oleh masing-masing Nabi itu berfaedah bagi dirinya sendiri, bagi masyarakat dan umatnya, di dunia dan di akhirat kelak.

Karena memperoleh nikmat yang tidak terhingga dari Allah itu keduanya mensyukuri nikmat dengan mengucapkan: "Alhamdu lillahil lazi faddalana alakasirin min ibadihil mu'minin" (artinya): "segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba yang beriman"

Sikap Nabi Daud dan Nabi Sulaiman dalam menerima nikmat Allah itu, suatu sikap yang terpuji. Karena itu para ulama menganjurkan agar kaum Muslimin meneladani sikap seorang hamba mengucapkan "hamdalah" ("alhamdu lillahi" segala puji bagi Allah). Hal ini berarti bahwa hamba yang menerima nikmat itu, benar-benar merasakan bahwa yang diterimanya itu benar-benar merupakan pernyataan kasih sayang Allah kepadanya dan ia merasa bahwa ia benar-benar memerlukan nikmat Allah itu. Tanpa nikmat itu ia tidak akan hidup dan merasakan kebahagiaan:

Allah SWT berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
(QS. Ibrahim: 7)

Nabi Daud as mulai memerintah di Palestina kira-kira 250 (dua ratus lima puluh) tahun setelah wafatnya Nabi Musa.

Di dalam sejarah diterangkan bahwa sebelum Nabi Musa meninggal dunia, dia telah mengangkat pengikutnya yang setia, Yaitu Yusya' bin Nun menjadi penggantinya. Setelah Nabi Musa wafat pada tahun 1.250 Sebelum Masehi dalam usia 100 tahun, (beliau dilahirkan tahun 1.350 Sebelum Masehi), Yusya' memimpin Bani Israel memasuki Palestina. Bani Israel di bawah pimpinan Yusya' dapat menaklukkan kota demi kota di Palestina itu.

Akhirnya seluruh Palestina dapat mereka taklukkan. Ada 31 orang raja-raja di Palestina, kesemuanya telah takluk di bawah kekuasaan Bani Israel.

Kemudian oleh Yusya' diadakan perbaikan-perbaikan dalam negeri. Diangkatnya hakim-hakim atau qadi-qadi dan ditentukannya pekerjaan dan tempat masing-masing qadi itu. Yang menjadi sumber hukum adalah syariat Musa as, di samping itu Yusya' sendiripun membuat undang-undang dan peraturan-peraturan yang tidak menyimpang dari syariat Musa as.

Dengan adanya perbaikan-perbaikan itu Bani Israel telah mempunyai pemerintahan yang kuat. Yusya' dapat memimpin Bani Israel dengan baik sampai ia wafat. Akan tetapi sesudah wafatnya Yusya' tidak terdapat lagi pemerintahan yang kuat di Palestina, sering terjadi peperangan antara Bani Israel dengan kabilah-kabilah yang tadinya sudah ditaklukkan, kemudian mereka bersatu kembali.

Sampai saat itu Bani Israel belum mempunyai seorang raja yang akan mempersatukan mereka dan mengikat mereka dalam suatu pimpinan dan pemerintahan.

Mereka hidup di bawah pemerintahan hakim-hakim (qadi) yang masing-masing memerintah sendiri-sendri. Di bawah pimpinan para hakim yang bercerai-berai itulah Bani Israel melawan musuh yang telah menguasai kampung halaman dan anak-anak mereka.

Oleh karena itu mereka selalu kalah dalam peperangan-peperangan itu dan kerap kali ditawan, dan jatuh ke bawah kekuasaan kabilah-kabilah yang memeranginya, dan mereka terpaksa membayar upeti.

Oleh karena itu mereka meminta kepada Nabi Syamuil, yang juga menjabat sebagai kadi agar mengangkat raja yang akan memimpin mereka berperang di jalan Allah melawan musuh-musuh itu.

Di dalam surah Al Baqarah ayat 246-252, telah diterangkan bahwa Nabi Syamuil mengatakan kepada Bani Israel bahwa Allah SWT akan mengangkat Thalut menjadi raja bagi Bani Israel, Thalut ini disebut Syamul atau Syaul'.

Karena Bani Israel tidak mempercayai berita-berita tersebut, maka Syamuil menyatakan bahwa sebagai bukti kebenaran berita itu ialah: "Tabut" (Sebuah peti pusaka Bani Israel yang berisi Taurat dan barang-barang peninggalan Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s.) akan kembali kepada Bani Israel dan orang-orang 'Amaliqah akan mengembalikannya tanpa peperangan.

Dengan kembalinya tabut ini , barulah Bani Israel tunduk, dan menerima Thalut sebagai raja bagi mereka. Dia diangkat menjadi raja pada tahun 1.020 sebelum Masehi. Dengan demikian Thalut ini adalah raja yang pertama bagi Bani Israel.

Tatkala raja Talut bersama tentaranya telah berhadap-hadapan dengan tentara Amaliqah, mak, Jalut (Goliat) raja 'Amaliqah, meminta kepada Talut agar diadakan perang tanding antara salah seorang dari orang-orang 'Amaliqah dengan salah seorang dari Israel. Dari pihak 'Amaliqah, perang tanding itu akan diwakili oleh raja mereka sendiri, yaitu raja Jalut. Raja Jalut adalah seorang yang bertubuh besar lagi tinggi dan perkasa, terkenal kuat dan pandai perang tanding.

Di samping itu Ia diperlengkapi dengan baju besi dan perlengkapan perlengkapan perang tanding yang lain. Karena itu orang-orang Bani Israel takut dan gentar menghadapinya. Mereka telah merasa diri mereka akan kalah menghadapinya. Dalam keadaan yang demikian itulah tampil seorang yang bernama Daud menjawab tantangan Jalut itu.

Daud adalah seorang peternak kambing yang ikut berperang di pihak TaIut, bertubuh biasa dan tidak tampak pada dirinya bahwa ia adalah seorang yang biasa melakukan perang tanding, sesuai dengan yang dikehendaki Jalut. Karena Jalut memandang enteng Daud, dan ia merasa yakin akan dapat dengan mudah mengalahkan Daud.

Setelah diadakan perang tanding antara Talut dan Daud dan terjadi perkelahian Daud dapat mengalahkan Jalut yang sombong itu. Kemenangan Daud atas Jalut disambut oleh Talut dan tentaranya dengan penuh kegembiraan karena kemenangan itu berarti kemenangan tentara Talut atas tentara Jalut.

Sejak waktu itulah Talut menyayangi Daud dan mengawinkan salah seorang putrinya dengan Daud. Setelah Jalut meninggal dunia, maka Daud diangkat menjadi raja Bani Israel menggantikan Talut mertuanya itu. Kemudian Allah SWT mengangkatnya pula sebagai Nabi dan Rasul yang diutusnya kepada Bani Israel.

Dengan demikian Nabi Daud as memegang dua jabatan, yaitu jabatan sebagai kepala negara dan jabatan sebagai pesuruh Allah menyampaikan agama-Nya kepada Bani Israel. Sebagai seorang Kepala Negara dan sebagai seorang Rasul Allah, maka orang itu harus mempunyai ilmu yang cukup luas di samping harus mempunyai bakat sebagai seorang pemimpin.

Maka Allah SWT menganugerahkan kepada Nabi Daud as segala macam ilmu yang diperlukan itu. Di antara keutamaan dan ilmu yang dikaruniakan Allah SWT kepada Daud as itu ialah:
  1. Allah SWT menundukkan kepada Daud as gunung dan burung. Gunung dan burung itu bertasbih bersama Daud pagi dan petang. Allah berfirman: إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ (18) وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ Artinya: Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami menundukkan burung-burung dalam keadaan berkumpul. Masing-masingnya amat taat (kepada Allah) (QS. Shaad [38]:18-19)
  2. Allah SWT mnganugerahkan kepada Daud as pengetahuan melunakkan besi, sehingga dengan pengetahuan itu ia dapat membuat baju besi dan keperluan-keperluan lain, untuk menguatkan pemerintahan dan kerasulannya. Allah berfirman: وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ Artinya: "dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud)." (QS. Saba [34]:10)
  3. Allah SWT telah menguatkan kerajaannya dan menganugerahkannya hikmah dan kebijaksanaan, sehingga ia dapat menyelesaikan dengan mudah perselisihan-perselisihan dan perkara yang diajukan kepadanya. Allah SWT berfirman: وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ Artinya: Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan". (QS. Shaad [38]:20)
  4. Allah SWT menurunkan kepadanya kitab Zabur, sehingga beliau termasuk salah seorang dari empat orang Rasul yang telah diturunkan kitab kepadanya. Allah SWT berfirman: وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian Nabi-nabi atas sebagian (yang lain) dan Kami berikan Zabur kepada Daud".(QS. Al Isra' [17]:55)
  5. Allah SWT memberikan kesanggupan kepadanya memahami pembicaraan burung, sebagaimana yang diterangkan pada ayat berikut.
  6. Allah SWT mengokohkan dan menguatkan kerajaannya. Allah berfirman: وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ, artinya"Dan Kami kuatkan kerajaannya." (QS. Shaad [38]:20)
Menurut Al Baidawi yang dimaksud dengan firman Allah: "Dan Kami kuatkan kerajaannya" ialah: "Kami (Allah) telah menguatkan dengan kekebalan, memenangkan peperangannya dan banyak mempunyai tentara.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Daud dan Sulaiman) yakni anak Daud (ilmu) tentang peradilan di antara manusia dan bahasa burung serta lain-lainnya (dan keduanya mengucapkan) sebagai tanda syukur mereka kepada Allah, ("Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami) dengan kenabian dan ditundukkannya jin, manusia dan setan-setan (dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman").
««•»»
And verily We gave David and Solomon, his son, knowledge, of rendering [decisive] judgement between people, and [knowledge] of the speech of birds and of other things, and they said, giving thanks to God, ‘Praise be to God Who has favoured us, with prophethood and the disposal of jinn, humans and devils [to our service], over many of His believing servants’.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 14][AYAT 16]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
15of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=15&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar