
««•»»
Surah An Naml 7
إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
««•»»
idz qaala muusaa li-ahlihi innii aanastu naaran saaatiikum minhaa bikhabarin aw aatiikum bisyihaabin qabasin la'allakum tasthaluuna
««•»»
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: "Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang".
««•»»
When Moses said to his family, ‘Indeed I descry a fire! I will bring you some news from it, or bring you a firebrand so that you may warm yourselves.’
««•»»
Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perintah agar beliau menyampaikan kepada umatnya bahwa telah terjadi suatu peristiwa besar waktu dahulu. Waktu itu Musa as dalam perjalanan dari Maydan untuk kembali ke Mesir dengan disertai oleh keluarganya. Mereka sesat dalam perjalanan pada suatu malam yang sangat dingin. Perjalanan ini dilakukan setelah Musa menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, sebagaimana yang disepakati antara Musa dengan mertuanya yaitu Nabi Syuaib as.
Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
Dan tatkala Musa menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnya api di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api", mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
(QS. Al Qasas: 29)
Waktu yang ditentukan itu adalah perjanjian antara Musa dengan mertuanya dalam menetapkan mahar perkawinannya. Maharnya berupa pekerjaan menggembalakan kambing mertuanya selama delapan tahun atau disempurnakan menjadi sepuluh tahun. Nabi Musa telah memilih salah satu dari dua masa itu.
Yang dimaksud dengan keluarganya adalah istrinya, tanpa ada orang lain beserta keduanya. Alquran menyebutkan kisah Musa setelah kisah Syuaib dalam beberapa surah. Dengan demikian dilihat dari segi sejarah, antara keduanya adalah satu masa atau dua masa yang berurutan.
Pada saat sesat dalam perjalanan itu malam sangat gelap dan dingin, Musa berkata kepada keluarganya bahwa ia melihat api. Musa berpesan agar keluarganya tetap tinggal di tempat itu, sedang dia akan pergi ke tempat api itu dengan harapan supaya memperoleh berita tentang jalan dari tempat itu, sehingga mereka dapat terhindar dari kesesatan jalan. Dengan adanya api berarti ada orang di sekitarnya tempat bertanya.
Selain itu Nabi Musa mengharapkan agar dia dapat membawakan kepada keluarganya itu nyala api yang disulutnya dari api yang kelihatan olehnya. Dengan memperoleh nyala api itu dia dan keluarganya tentu dapat berdiang, menghangatkan badan dari kedinginan yang mencekam itu.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Ingatlah (ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu istrinya sewaktu ia berjalan dari Madyan menuju ke Mesir, ("Sesungguhnya aku melihat) dari jauh (api. Aku kelak akan membawa kepadamu kabar daripadanya) mengenai jalan yang harus kita tempuh, karena pada saat itu Nabi Musa tersesat (atau aku membawa kepadamu) dari api itu (suluh api).
Jika dibaca Bisyihabi Qabasin, maka Idhafah di sini mengandung makna Bayan. Dapat pula dibaca Bisyihabin Qabasin, artinya obor api yang dinyalakan pada sumbu atau kayu (supaya kamu dapat berdiang") huruf Tha pada lafal Tashthaluna adalah pengganti dari huruf Ta asal, karena wazannya adalah Tafta'iluna, yaitu berasal dari Shaliya atau Shala yang artinya berdiang pada api untuk menghilangkan rasa dingin.
Surah An Naml 7
إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
««•»»
idz qaala muusaa li-ahlihi innii aanastu naaran saaatiikum minhaa bikhabarin aw aatiikum bisyihaabin qabasin la'allakum tasthaluuna
««•»»
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: "Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang".
««•»»
When Moses said to his family, ‘Indeed I descry a fire! I will bring you some news from it, or bring you a firebrand so that you may warm yourselves.’
««•»»
Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perintah agar beliau menyampaikan kepada umatnya bahwa telah terjadi suatu peristiwa besar waktu dahulu. Waktu itu Musa as dalam perjalanan dari Maydan untuk kembali ke Mesir dengan disertai oleh keluarganya. Mereka sesat dalam perjalanan pada suatu malam yang sangat dingin. Perjalanan ini dilakukan setelah Musa menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, sebagaimana yang disepakati antara Musa dengan mertuanya yaitu Nabi Syuaib as.
Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
Dan tatkala Musa menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnya api di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api", mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
(QS. Al Qasas: 29)
Waktu yang ditentukan itu adalah perjanjian antara Musa dengan mertuanya dalam menetapkan mahar perkawinannya. Maharnya berupa pekerjaan menggembalakan kambing mertuanya selama delapan tahun atau disempurnakan menjadi sepuluh tahun. Nabi Musa telah memilih salah satu dari dua masa itu.
Yang dimaksud dengan keluarganya adalah istrinya, tanpa ada orang lain beserta keduanya. Alquran menyebutkan kisah Musa setelah kisah Syuaib dalam beberapa surah. Dengan demikian dilihat dari segi sejarah, antara keduanya adalah satu masa atau dua masa yang berurutan.
Pada saat sesat dalam perjalanan itu malam sangat gelap dan dingin, Musa berkata kepada keluarganya bahwa ia melihat api. Musa berpesan agar keluarganya tetap tinggal di tempat itu, sedang dia akan pergi ke tempat api itu dengan harapan supaya memperoleh berita tentang jalan dari tempat itu, sehingga mereka dapat terhindar dari kesesatan jalan. Dengan adanya api berarti ada orang di sekitarnya tempat bertanya.
Selain itu Nabi Musa mengharapkan agar dia dapat membawakan kepada keluarganya itu nyala api yang disulutnya dari api yang kelihatan olehnya. Dengan memperoleh nyala api itu dia dan keluarganya tentu dapat berdiang, menghangatkan badan dari kedinginan yang mencekam itu.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Ingatlah (ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu istrinya sewaktu ia berjalan dari Madyan menuju ke Mesir, ("Sesungguhnya aku melihat) dari jauh (api. Aku kelak akan membawa kepadamu kabar daripadanya) mengenai jalan yang harus kita tempuh, karena pada saat itu Nabi Musa tersesat (atau aku membawa kepadamu) dari api itu (suluh api).
Jika dibaca Bisyihabi Qabasin, maka Idhafah di sini mengandung makna Bayan. Dapat pula dibaca Bisyihabin Qabasin, artinya obor api yang dinyalakan pada sumbu atau kayu (supaya kamu dapat berdiang") huruf Tha pada lafal Tashthaluna adalah pengganti dari huruf Ta asal, karena wazannya adalah Tafta'iluna, yaitu berasal dari Shaliya atau Shala yang artinya berdiang pada api untuk menghilangkan rasa dingin.
««•»»
Mention, when Moses said to his family, [to] his wife, during his journey from Midian [back] to Egypt: ‘Assuredly I notice, I see in the distance, a fire. I will bring you news from there, about the [journey’s] route — for he had lost his way — or bring you a firebrand (read as a genitive annexation [bi-shihābi qabasin] as an explication [of shihāb, ‘flame’]; or read without [annexation, bi-shihābin qabasin] meaning, a flame of fire at the end of a wick or a wooden stick) that perhaps you might warm yourselves’, (tastalūn: the tā’ replaces the tā’ of the [8th verbal form] ifta‘ala [sc. istalā]; it derives from salaya or saliya, ‘to be exposed to the blaze of fire’), [that perhaps] you might warm yourselves from the cold.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 6]•[AYAT 8]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#27:7
Mention, when Moses said to his family, [to] his wife, during his journey from Midian [back] to Egypt: ‘Assuredly I notice, I see in the distance, a fire. I will bring you news from there, about the [journey’s] route — for he had lost his way — or bring you a firebrand (read as a genitive annexation [bi-shihābi qabasin] as an explication [of shihāb, ‘flame’]; or read without [annexation, bi-shihābin qabasin] meaning, a flame of fire at the end of a wick or a wooden stick) that perhaps you might warm yourselves’, (tastalūn: the tā’ replaces the tā’ of the [8th verbal form] ifta‘ala [sc. istalā]; it derives from salaya or saliya, ‘to be exposed to the blaze of fire’), [that perhaps] you might warm yourselves from the cold.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 6]•[AYAT 8]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#27:7

Tidak ada komentar:
Posting Komentar