Jumat, 20 Maret 2015

[027] An Naml Ayat 009



««•»»
Surah An Naml 9

يا موسىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ العَزيزُ الحَكيمُ
««•»»
yaa muusaa innahu anaa allaahu al'aziizu alhakiimu
««•»»
 (Allah berfirman): "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
««•»»
‘O Moses! Indeed I am Allah, the All-mighty, the All-wise.’
««•»»

Ketika Musa datang mendekati api itu ternyata yang disangkanya api itu bukan api seperti yang dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari "Ullaiq", yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit pada sebuah dahan kayu dan terkulai dari dahan itu.

Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu. Di tempat itu Musa as tidak menemukan seorangpun, karena itu ia heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya itu. Waktu itu mencoba menyulut nyala api, ia merasa takut dan mundur. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh suatu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa telah diberkati siapa yang berada di dekat api itu yaitu Musa dan para malaikat.
Ucapan pernyataan telah diberkati ini , merupakan salam dan kehormatan dari Allah SWT kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim as,

dalam firman-Nya:
رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت
Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait.

Abdulah Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "diberkati" siapa yang berada di dekat api ialah disucikan Allah.

Menurut Ibnu Abbas bahwa yang kelihatan sebagai api oleh Nabi Musa itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api.

Menurut Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah cahaya Tuhan Semesta alam". Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abu Ubaidah dari Abu Musa AI-Asy'ary,

Bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
إن الله عز وجل لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه يرفع إليه عمل الليل قبل النهار وعمل النهار قبل الليل حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه
Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya
(HR. Muslim)
Kemudian Abu Ubaidah membaca ayat ini
(QS. An Naml [27]:8).

Peristiwa itu terjadi sewaktu Musa sampai di suatu tempat yang diberkati, yaitu lembah suci yang bernama lembah Thuwa.

Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang pohon kayu.
(QS. Al Qasas [28]:30)

Dan firman Allah yang berbunyi:
إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Tuwa.
(QS. An Naziat [79]:16)

Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Thuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa as sebagai Rasul yang diutus Allah menyampaikan risalah kepada Firaun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat.

Musa berhadapan langsung dengan Allah dalam menerima wahyu ini , tetapi Musa tidak dapat melihatnya, karena terhalang oleh satu tabir yang berupa cahaya.

Penerimaan wahyu semacam ini , dari balik tabir merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para Nabi-Nya.

Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perkataan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
(QS. Asy Syu'ara [37]:51)

Maha suci Allah, Tuhan semesta alam yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatupun makhluk-makhluk-Nya yang menyamai-Nya, Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya.

Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 9 bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk.

Allah Yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, Maha bijaksana dalam firman-firman-dan perbuatan-perbuatan-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hai Musa! Sesungguhnya) keadaan yang sebenarnya (Akulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).
««•»»
But when he reached it, he was callO Moses, lo!, in other words, the fact is that, it is I, God, the Mighty, the Wise.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar