Sabtu, 21 Maret 2015

[027] An Naml Ayat 012

««•»»
Surah An Naml 12
وَأَدْخِلْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ فِي تِسْعِ آيَاتٍ إِلَى فِرْعَوْنَ وَقَوْمِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ
««•»»
wa-adkhil yadaka fii jaybika takhruj baydhaa-a min ghayri suu-in fii tis'i aayaatin ilaa fir'awna waqawmihi innahum kaanuu qawman faasiqiina
««•»»
Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu {1092}, niscaya ia akan ke luar putih (bersinar) bukan karena penyakit. (Kedua mu'jizat ini) termasuk sembilan buah mu'jizat (yang akan dikemukakan) kepada Fir'aun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik".
{1092} Maksudnya: meletakkan tangan ke dada melalui leher baju.
««•»»
‘Insert your hand into your bosom. It will emerge white, without any fault, —among nine signs for Pharaoh and his people. Indeed they are a transgressing lot.’
««•»»

Pada ayat ini Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang lain, setelah menunjukkan, kekuasaan-Nya merubah benda mati yang berada di tangan Musa menjadi binatang hidup berupa ular. Kali ini diperintahkan-Nya Musa memasukkan tangannya ke ketiaknya, melalui belahan leher bajunya, yang kemudian dikeluarkan lagi berubah menjadi putih bersinar cemerlang seperti sinar matahari.

Ini adalah merupakan mukjizat yang kedua, yaitu tangannya berubah warna menjadi putih cemerlang.

Dua macam mukjizat Musa ini termasuk dalam jumlah mukjizat Musa yang seluruhnya ada sembilan mukjizat dari Allah sebagai bukti kepada Firaun dan kaumnya bahwa dirinya adalah utusan Allah untuk mengajak ke jalan yang benar yang diridai-Nya. Jumlah mukjizat Musa yang sembilan itu,

ditegaskan Allah lagi dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
Dan sesungguhnya kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata.
(QS. Al Isra' [17]:101)

Musa diutus Allah dengan bermacam-macam kejadian yang luar biasa untuk menghadapi Firaun dan kaumnya yang fasik, melampaui batas fitrah manusia. Bahkan Firaun mengaku dirinya sebagai Tuhan dan dibenarkan pengakuannya ini oleh kaumnya.

Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى
(Seraya) berkata: "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi".
(QS. An Nazi'at [79]:24)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan masukkanlah tanganmu ke leher bajumu) yakni kerah bajumu (niscaya ia akan keluar) berbeda keadaannya dengan warna kulit tangan biasa (putih bukan karena penyakit) supak, dan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata, hal itu sebagai mukjizat (termasuk sembilan buah mukjizat) yang kamu diutus untuk membawanya (yang akan dikemukakan kepada Firaun dan kaumnya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik").
««•»»
And insert your hand into your bosom, into the collar of your shirt, and it will emerge, not in its usual skin colour, but, white without any blemish, any [vestige of] leprosy, with a glare that dazzles the eyes, as one sign, among nine signs, with which you shall be sent [as God’s messenger], to Pharaoh and his folk; indeed they are an immoral lot’.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:12

Jumat, 20 Maret 2015

[027] An Naml Ayat 011

««•»»
Surah An Naml 11

إِلّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسنًا بَعدَ سوءٍ فَإِنّي غَفورٌ رَحيمٌ
««•»»
illaa man zhalama tsumma baddala husnan ba'da suu-in fa-innii ghafuurun rahiimun
««•»»
Tetapi orang yang berlaku zalim, kemudian ditukarnya kezalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka seaungguhnya Aku Maha Pangampun lagi Maha Penyayang.
««•»»
barring someone who does wrong and then makes up with goodness for [his] fault, for indeed I am all-forgiving, all-merciful.’
««•»»

Ayat ini adalah rentetan pembicaraan langsung antara Allah dan Musa di lembah suci Thuwa. Setelah Musa diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Allah memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkat yang dipegang tangan kanannya.

Ketika tongkat itu dilemparkan, Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor Jann, yaitu sejenis ular yang sangat gesit geraknya. Berubahlah tongkat itu menjadi ular. Tidak terlintas di hati Musa sedikitpun bahwa tongkatnya itu akan berubah menjadi ular, padahal dengan tongkat itu Musa dapat mengambil manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai penggembala kambing.

Hal ini dinyatakan Allah dalam firman-Nya:
قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى
Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".
(QS. Thahaa [20]:18)

Ketika Musa melihat tongkatnya menjadi ular, dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh, karena merasa sangat takut.

Mengetahui hal demikian itu, Allah memanggil Musa agar jangan takut kepada ular, karena sesungguhnya orang yang diangkat jadi Rasul tidak patut takut di hadapan Allah.

Seruan Allah agar jangan takut ini didahului dengan perintah datang ke hadapan-Nya dan dijamin keamanannya.

Maka Allah menegaskan dengan firman-Nya:
يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ
Hai Musa datanglah kepada-Ku, dan janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman
(QS. Al Qasas [28:31)

Selain itu, disuruh Nya Musa memegang ular itu, agar kembali menjadi tongkat lagi. Firman Allah SWT:

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى
Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.
(QS. Thahaa [20]:21)

Ini merupakan mukjizat yang pertama bagi Musa.

Adapun orang takut kepada Allah ialah orang-orang yang berbuat zalim, yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zalim berupa, zalim terhadap diri sendiri, zalim terhadap orang lain, demikian pula terhadap makhluk-makhluk Allah lain.

Orang yang sungguh-sungguh bertobat kepada Allah, tidak akan berbuat zalim lagi, kemudian mengiringinya dengan perbuatan baik, tidak perlu takut menghadapi Allah SWT. Hal ini merupakan kabar gembira bagi mereka dan juga bagi seluruh umat manusia, sebagaimana perilaku para tukang sihir Firaun yang beriman kepada Musa sebagai utusan Allah. Siapa saja yang berbuat dosa, kemudian menghentikan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya.

Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
(QS. Thahaa [20]:82)

Dan firman-Nya lagi:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. An Nisa [4]:110)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Tetapi) (orang-orang yang berlaku zalim) berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri (kemudian menggantinya dengan kebaikan) yang ia lakukan (sesudah keburukannya itu) bertobat daripadanya (maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) menerima tobatnya dan mengampuninya
««•»»
except him who has wronged, his soul, but then changed [his wrong] for good — he [then] performs [good deeds] — after [having done] evil, in other words, [he has] repented, then truly I am Forgiving, Merciful, I will accept his repentance and forgi
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:11

[027] An Naml Ayat 010

««•»»
Surah An Naml 10

وَأَلقِ عَصاكَ ۚ فَلَمّا رَآها تَهتَزُّ كَأَنَّها جانٌّ وَلّىٰ مُدبِرًا وَلَم يُعَقِّب ۚ يا موسىٰ لا تَخَف إِنّي لا يَخافُ لَدَيَّ المُرسَلونَ
««•»»
wa-alqi 'ashaaka falammaa raaahaa tahtazzu ka-annahaa jaannun wallaa mudbiran walam yu'aqqib yaa muusaa laa takhaf innii laa yakhaafu ladayya almursaluuna
««•»»
Dan lemparkanlah tongkatmu". Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.
««•»»
‘Throw down your staff!’ And when he saw it wriggling, as if it were a snake, he turned his back [to flee], without looking back. ‘O Moses! ‘Do not be afraid. Indeed the apostles are not afraid before Me,
««•»»

Ayat ini adalah rentetan pembicaraan langsung antara Allah dan Musa di lembah suci Thuwa. Setelah Musa diangkat sebagai Nabi dan Rasul, Allah memerintahkan Musa untuk melemparkan tongkat yang dipegang tangan kanannya.

Ketika tongkat itu dilemparkan, Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor Jann, yaitu sejenis ular yang sangat gesit geraknya. Berubahlah tongkat itu menjadi ular. Tidak terlintas di hati Musa sedikitpun bahwa tongkatnya itu akan berubah menjadi ular, padahal dengan tongkat itu Musa dapat mengambil manfaat dalam kehidupan sehari-hari sebagai penggembala kambing.

Hal ini dinyatakan Allah dalam firman-Nya:
قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى
Musa berkata: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".
(QS. Thahaa [20]:18)

Ketika Musa melihat tongkatnya menjadi ular, dia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh, karena merasa sangat takut.

Mengetahui hal demikian itu, Allah memanggil Musa agar jangan takut kepada ular, karena sesungguhnya orang yang diangkat jadi Rasul tidak patut takut di hadapan Allah.

Seruan Allah agar jangan takut ini didahului dengan perintah datang ke hadapan-Nya dan dijamin keamanannya.

Maka Allah menegaskan dengan firman-Nya:
يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ
Hai Musa datanglah kepada-Ku, dan janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman
(QS. Al Qasas [28]:31)

Selain itu, disuruh Nya Musa memegang ular itu, agar kembali menjadi tongkat lagi. Firman Allah SWT:

قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى
Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.
(QS. Tahaa [20]:21)

Ini merupakan mukjizat yang pertama bagi Musa.

Adapun orang takut kepada Allah ialah orang-orang yang berbuat zalim, yang menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Zalim berupa, zalim terhadap diri sendiri, zalim terhadap orang lain, demikian pula terhadap makhluk-makhluk Allah lain.

Orang yang sungguh-sungguh bertobat kepada Allah, tidak akan berbuat zalim lagi, kemudian mengiringinya dengan perbuatan baik, tidak perlu takut menghadapi Allah SWT. Hal ini merupakan kabar gembira bagi mereka dan juga bagi seluruh umat manusia, sebagaimana perilaku para tukang sihir Firaun yang beriman kepada Musa sebagai utusan Allah. Siapa saja yang berbuat dosa, kemudian menghentikan diri dari perbuatan-perbuatan tersebut dan bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya.

Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.
(QS. Thahaa [20]:82)

Dan firman-Nya lagi:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. An Nisa [4]:110)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan lemparkanlah tongkatmu") Musa melemparkannya. (Tatkala Musa melihat tongkatnya bergerak-gerak) bergerak ke sana dan ke mari (seperti seekor ular yang gesit) ular yang sangat besar tapi gesit gerakannya (larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh) karena takut. Allah swt. berfirman, ("Hai Musa! Janganlah kamu takut) oleh ular itu. (Sesungguhnya tidak takut di hadapan-Ku) yakni di sisi-Ku (orang-orang yang dijadikan Rasul) mereka tidak takut oleh ular dan selainnya.
««•»»
Throw down your staff’, and he threw it down. And when he saw it wriggling, moving, like a serpent, a slender snake, he turned his back in flight and did not come back. God, exalted be He, says: ‘O Moses, do not fear, it. Surely in My presence, before Me, the messengers do not fear, any snake or otherwise,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:10

[027] An Naml Ayat 009



««•»»
Surah An Naml 9

يا موسىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ العَزيزُ الحَكيمُ
««•»»
yaa muusaa innahu anaa allaahu al'aziizu alhakiimu
««•»»
 (Allah berfirman): "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
««•»»
‘O Moses! Indeed I am Allah, the All-mighty, the All-wise.’
««•»»

Ketika Musa datang mendekati api itu ternyata yang disangkanya api itu bukan api seperti yang dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari "Ullaiq", yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit pada sebuah dahan kayu dan terkulai dari dahan itu.

Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu. Di tempat itu Musa as tidak menemukan seorangpun, karena itu ia heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya itu. Waktu itu mencoba menyulut nyala api, ia merasa takut dan mundur. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh suatu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa telah diberkati siapa yang berada di dekat api itu yaitu Musa dan para malaikat.
Ucapan pernyataan telah diberkati ini , merupakan salam dan kehormatan dari Allah SWT kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim as,

dalam firman-Nya:
رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت
Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait.

Abdulah Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "diberkati" siapa yang berada di dekat api ialah disucikan Allah.

Menurut Ibnu Abbas bahwa yang kelihatan sebagai api oleh Nabi Musa itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api.

Menurut Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah cahaya Tuhan Semesta alam". Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abu Ubaidah dari Abu Musa AI-Asy'ary,

Bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
إن الله عز وجل لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه يرفع إليه عمل الليل قبل النهار وعمل النهار قبل الليل حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه
Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya
(HR. Muslim)
Kemudian Abu Ubaidah membaca ayat ini
(QS. An Naml [27]:8).

Peristiwa itu terjadi sewaktu Musa sampai di suatu tempat yang diberkati, yaitu lembah suci yang bernama lembah Thuwa.

Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang pohon kayu.
(QS. Al Qasas [28]:30)

Dan firman Allah yang berbunyi:
إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Tuwa.
(QS. An Naziat [79]:16)

Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Thuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa as sebagai Rasul yang diutus Allah menyampaikan risalah kepada Firaun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat.

Musa berhadapan langsung dengan Allah dalam menerima wahyu ini , tetapi Musa tidak dapat melihatnya, karena terhalang oleh satu tabir yang berupa cahaya.

Penerimaan wahyu semacam ini , dari balik tabir merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para Nabi-Nya.

Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perkataan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
(QS. Asy Syu'ara [37]:51)

Maha suci Allah, Tuhan semesta alam yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatupun makhluk-makhluk-Nya yang menyamai-Nya, Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya.

Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 9 bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk.

Allah Yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, Maha bijaksana dalam firman-firman-dan perbuatan-perbuatan-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Hai Musa! Sesungguhnya) keadaan yang sebenarnya (Akulah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).
««•»»
But when he reached it, he was callO Moses, lo!, in other words, the fact is that, it is I, God, the Mighty, the Wise.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:9

[027] An Naml Ayat 008

««•»»
Surah An Naml 8

فَلَمّا جاءَها نودِيَ أَن بورِكَ مَن فِي النّارِ وَمَن حَولَها وَسُبحانَ اللَّهِ رَبِّ العالَمينَ
««•»»
falammaa jaa-ahaa nuudiya an buurika man fii alnnaari waman hawlahaa wasubhaana allaahi rabbi al'aalamiina
««•»»
aka tatkala dia tiba di (tempat) api itu, diserulah dia: "Bahwa telah diberkati orang-orang yang berada di dekat api itu, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam".
««•»»
So when he came to it, he was called: ‘Blessed is He who is in the fire and who is [as well] around it, and immaculate is Allah, the Lord of all the worlds!’
««•»»

Ketika Musa datang mendekati api itu ternyata yang disangkanya api itu bukan api seperti yang dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari "Ullaiq", yaitu sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit pada sebuah dahan kayu dan terkulai dari dahan itu.

Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu. Di tempat itu Musa as tidak menemukan seorangpun, karena itu ia heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya itu. Waktu itu mencoba menyulut nyala api, ia merasa takut dan mundur. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh suatu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa telah diberkati siapa yang berada di dekat api itu yaitu Musa dan para malaikat.
Ucapan pernyataan telah diberkati ini , merupakan salam dan kehormatan dari Allah SWT kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim as,

dalam firman-Nya:
رحمة الله وبركاته عليكم أهل البيت
Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait.

Abdulah Ibnu Abbas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan "diberkati" siapa yang berada di dekat api ialah disucikan Allah.

Menurut Ibnu Abbas bahwa yang kelihatan sebagai api oleh Nabi Musa itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api.

Menurut Ibnu Abbas juga, bahwa itu adalah cahaya Tuhan Semesta alam". Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abu Ubaidah dari Abu Musa AI-Asy'ary,

Bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
إن الله عز وجل لا ينام ولا ينبغي له أن ينام، يخفض القسط ويرفعه يرفع إليه عمل الليل قبل النهار وعمل النهار قبل الليل حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه
Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya
(HR. Muslim)
Kemudian Abu Ubaidah membaca ayat ini (QS. An Naml [27]:8).

Peristiwa itu terjadi sewaktu Musa sampai di suatu tempat yang diberkati, yaitu lembah suci yang bernama lembah Thuwa.

Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِي الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkati, dari sebatang pohon kayu.
(QS. Al Qasas: 30)

Dan firman Allah yang berbunyi:
إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِي الْمُقَدَّسِ طُوًى
Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Tuwa.
(QS. An Naziat: 16)

Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Thuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa as sebagai Rasul yang diutus Allah menyampaikan risalah kepada Firaun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat.

Musa berhadapan langsung dengan Allah dalam menerima wahyu ini , tetapi Musa tidak dapat melihatnya, karena terhalang oleh satu tabir yang berupa cahaya.

Penerimaan wahyu semacam ini , dari balik tabir merupakan salah satu macam cara penyampaian wahyu Allah kepada para Nabi-Nya.

Hal ini disebut Allah dalam firman-Nya:
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perkataan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.
(QS. Asy Syu'ara [37]:51)

Maha suci Allah, Tuhan semesta alam yang berbuat apa yang dikehendaki-Nya, tidak ada sesuatupun makhluk-makhluk-Nya yang menyamai-Nya, Dia Maha Agung dan Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya.

Yang didengar Musa itu ialah suara firman Allah. Hal ini dinyatakan Allah dalam ayat 9 bahwa yang menyeru dan memanggilnya ialah Allah, bukan suara makhluk.

Allah Yang Maha Perkasa atas segala sesuatu, Maha bijaksana dalam firman-firman-dan perbuatan-perbuatan-Nya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka tatkala ia tiba di tempat api itu, diserulah dia, "Bahwa telah diberkati) yakni semoga Allah memberkati (orang yang berada di dekat api itu) yaitu Nabi Musa (dan orang-orang yang berada di sekitarnya) yang terdiri dari para Malaikat. Atau maknanya terbalik, yakni malaikat dahulu kemudian Nabi Musa.

Lafal Baraka ini bermuta'addi dengan sendirinya sebagaimana dapat bermuta'addi dengan huruf. Kemudian setelah lafal Fi diperkirakan adanya lafal Makani, maksudnya Fi Makanin Nari, yaitu orang-orang yang ada di sekitar api. (Dan Maha Suci Allah, Rabb semesta alam) dari semua apa yang diserukan-Nya, maksudnya Maha Suci Allah dari keburukan.
««•»»
But when he reached it, he was called [with the following words]: ‘Blessed is he, that is to say, God bless him, who is in the fire, namely, Moses, and who is around it, namely, the angels — or vice-versa ([the verb] bāraka may be followed immediately by the direct object or by a preposition and then the direct object; [a noun such as] makān, ‘location’, is implied after fī, ‘in’, [sc. man fī makāni’l-nār, ‘who is in the area of the fire’]); and Glory be to God, the Lord of the Worlds — this is included in the call, and is meant to declare that God is above all evil [associations].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:8

[027] An Naml Ayat 007



««•»»
Surah An Naml 7

إِذْ قَالَ مُوسَى لِأَهْلِهِ إِنِّي آنَسْتُ نَارًا سَآتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ آتِيكُمْ بِشِهَابٍ قَبَسٍ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
««•»»
idz qaala muusaa li-ahlihi innii aanastu naaran saaatiikum minhaa bikhabarin aw aatiikum bisyihaabin qabasin la'allakum tasthaluuna
««•»»
(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya: "Sesungguhnya aku melihat api. Aku kelak akan membawa kepadamu khabar daripadanya, atau aku membawa kepadamu suluh api supaya kamu dapat berdiang".
««•»»
When Moses said to his family, ‘Indeed I descry a fire! I will bring you some news from it, or bring you a firebrand so that you may warm yourselves.’
««•»»

Ayat ini diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perintah agar beliau menyampaikan kepada umatnya bahwa telah terjadi suatu peristiwa besar waktu dahulu. Waktu itu Musa as dalam perjalanan dari Maydan untuk kembali ke Mesir dengan disertai oleh keluarganya. Mereka sesat dalam perjalanan pada suatu malam yang sangat dingin. Perjalanan ini dilakukan setelah Musa menyelesaikan waktu yang telah ditentukan, sebagaimana yang disepakati antara Musa dengan mertuanya yaitu Nabi Syuaib as.

Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الْأَجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ
Dan tatkala Musa menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnya api di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api", mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".
(QS. Al Qasas: 29)

Waktu yang ditentukan itu adalah perjanjian antara Musa dengan mertuanya dalam menetapkan mahar perkawinannya. Maharnya berupa pekerjaan menggembalakan kambing mertuanya selama delapan tahun atau disempurnakan menjadi sepuluh tahun. Nabi Musa telah memilih salah satu dari dua masa itu.

Yang dimaksud dengan keluarganya adalah istrinya, tanpa ada orang lain beserta keduanya. Alquran menyebutkan kisah Musa setelah kisah Syuaib dalam beberapa surah. Dengan demikian dilihat dari segi sejarah, antara keduanya adalah satu masa atau dua masa yang berurutan.

Pada saat sesat dalam perjalanan itu malam sangat gelap dan dingin, Musa berkata kepada keluarganya bahwa ia melihat api. Musa berpesan agar keluarganya tetap tinggal di tempat itu, sedang dia akan pergi ke tempat api itu dengan harapan supaya memperoleh berita tentang jalan dari tempat itu, sehingga mereka dapat terhindar dari kesesatan jalan. Dengan adanya api berarti ada orang di sekitarnya tempat bertanya.

Selain itu Nabi Musa mengharapkan agar dia dapat membawakan kepada keluarganya itu nyala api yang disulutnya dari api yang kelihatan olehnya. Dengan memperoleh nyala api itu dia dan keluarganya tentu dapat berdiang, menghangatkan badan dari kedinginan yang mencekam itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Ingatlah (ketika Musa berkata kepada keluarganya) yaitu istrinya sewaktu ia berjalan dari Madyan menuju ke Mesir, ("Sesungguhnya aku melihat) dari jauh (api. Aku kelak akan membawa kepadamu kabar daripadanya) mengenai jalan yang harus kita tempuh, karena pada saat itu Nabi Musa tersesat (atau aku membawa kepadamu) dari api itu (suluh api).

Jika dibaca Bisyihabi Qabasin, maka Idhafah di sini mengandung makna Bayan. Dapat pula dibaca Bisyihabin Qabasin, artinya obor api yang dinyalakan pada sumbu atau kayu (supaya kamu dapat berdiang") huruf Tha pada lafal Tashthaluna adalah pengganti dari huruf Ta asal, karena wazannya adalah Tafta'iluna, yaitu berasal dari Shaliya atau Shala yang artinya berdiang pada api untuk menghilangkan rasa dingin.
««•»»
Mention, when Moses said to his family, [to] his wife, during his journey from Midian [back] to Egypt: ‘Assuredly I notice, I see in the distance, a fire. I will bring you news from there, about the [journey’s] route — for he had lost his way — or bring you a firebrand (read as a genitive annexation [bi-shihābi qabasin] as an explication [of shihāb, ‘flame’]; or read without [annexation, bi-shihābin qabasin] meaning, a flame of fire at the end of a wick or a wooden stick) that perhaps you might warm yourselves’, (tastalūn: the tā’ replaces the tā’ of the [8th verbal form] ifta‘ala [sc. istalā]; it derives from salaya or saliya, ‘to be exposed to the blaze of fire’), [that perhaps] you might warm yourselves from the cold.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 6][AYAT 8]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
7of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=7&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:7

[027] An Naml Ayat 006



««•»»
Surah An Naml 6

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ
««•»»
wa-innaka latulaqqaa alqur-aana min ladun hakiimin 'aliimin
««•»»
Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Quraan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
««•»»
Indeed you receive the Qurʾān from One who is all-wise, all-knowing.
««•»»

Dalam ayat ini Allah berfirman yang langsung ditujukan kepada Nabi Muhammad saw memberi tahukan bahwa Alquran diturunkan Allah kepadanya dengan perantaraan Jibril untuk dihafalkan dan diajarkan kepada umatnya serta dilaksanakan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya.

Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5)
Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya sendiri. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
(QS. Al An'am [6]:1-5)

Jelaslah bahwa Alquran dari Allah Yang Maha Bijaksana dalam segala tindakan-Nya terhadap makhluk-Nya, dan Maha Mengetahui keadaan mereka dan apa-apa yang baik bagi mereka. Beritanya adalah benar dan hukum-Nya adalah adil.

Sebagaimana Allah telah berfirman:
وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا
Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Alquran) sebagai kalimat yang benar dan adil.
(QS. Al An'am [6]:115)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan sesungguhnya kamu) khithab atau perintah ini ditujukan kepada Nabi saw. (benar-benar diberi Alquran) yakni diturunkan dengan sungguh-sungguh kepadamu (dari sisi) hadirat (Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui) mengenai hal tersebut.
««•»»
And truly you — this is an address to the Prophet (s) — are receiving the Qur’ān, it is being transmitted to you intensely, from One Wise, Knowing, in such [transmission].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 5][AYAT 7]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
6of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=6&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:6

[027] An Naml Ayat 005

««•»»
Surah An Naml 5

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَهُمْ سُوءُ الْعَذَابِ وَهُمْ فِي الْآخِرَةِ هُمُ الْأَخْسَرُونَ
««•»»
ulaa-ika alladziina lahum suu-u al'adzaabi wahum fii al-aakhirati humu al-akhsaruuna
««•»»
Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi.
««•»»
They are the ones for whom there is a terrible punishment, and they are the ones who will be the biggest losers in the Hereafter.
««•»»

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa mereka akan menerima siksa yang buruk di dunia dan di akhirat. Hal ini merupakan ancaman Allah terhadap orang-orang kafir yang tidak beriman dengan hari akhirat itu, dan juga merupakan peringatan bagi seluruh manusia.

Siksa di dunia dapat terjadi dengan adanya bermacam-macam bencana alam seperti banjir, gempa bumi, peperangan yang membawa korban manusia dan harta benda dan lain-lain. Siksaan dunia ini dapat berupa siksaan batin atau jiwa yang dialami secara perorangan, meskipun di antara mereka ada yang sudah cukup kebutuhan-kebutuhan hidup dunianya, bahkan ada kebutuhan duniawinya lebih dari cukup, namun demikian, hidupnya tidak bahagia selalu resah, karena jiwa mereka kosong, mereka tidak tahu tujuan hidup, karena tidak percaya pada hari akhirat.

Dalam kehidupan hari Akhirat nanti, mereka sangat merugi, mereka menjadi penghuni neraka selamanya. Mereka masing-masing menerima balasan siksa yang setimpal sesuai dengan amal buruk mereka.

Sehingga mereka ini nta keringanan, yakni tidak disiksa biarpun barang sehari.

Hal ini disebutkan Allah dalam firman-Nya:
وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ
Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu supaya Dia meringankan azab untuk kami barang sehari".
(QS. Al Mu'min [40]:49)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang buruk) yang keras di dunia, yaitu dengan dibunuh dan ditawan (dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi) karena tempat mereka adalah neraka, mereka kekal di dalamnya.
««•»»
Those are they for whom there is an awful chastisement, the worst [chastisement] in this world: being killed or being taken captive; and in the Hereafter they will be the greatest losers, because they will end up in the Fire which has been made everlasting for them.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 4][AYAT 6]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
5of93
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=27&tAyahNo=5&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#27:5